"Dugaan awal disebabkan oleh Adenovirus, SARS-CoV-2, virus ABV dan lainnya. Virus tersebut utamanya menyerang saluran cerna dan saluran pernapasan," ujar Hanifah dalam keterangan pers virtual, Kamis (5/5).
Hepatitis akut bergejala berat, kata Hanifah, diduga sudah masuk ke Indonesia setelah tiga anak di Jakarta dilaporkan meninggal dunia akibat terinfeksi.
Hingga kini, Kementerian Kesehatan masih melakukan investigasi melalui pemeriksaan panel virus lengkap dan penyelidikan epidemiologi guna mengetahui lebih lanjut penyebab dari penyakit tersebut.
Meski belum diketahui penyebab pasti penyakit hepatitis akut pada anakl, Hanifah menyarankan orangtua meningkatkan kewaspadaan terhadap risiko penyakit tersebut pada anak-anak usia di bawah 16 tahun.
Prof Hanifah menyarankan langkah awal dengan menjaga kebersihan diri dan lingkungan guna mencegah risiko infeksi.
"Untuk mencegah dari saluran pencernaan, jagalah kebersihan dengan cara mencuci tangan dengan sabun, memastikan makanan atau minuman yang dikonsumsi itu matang, tidak menggunakan alat-alat makan bersama dengan orang lain, serta menghindari kontak anak-anak kit adari orang yang sakit agar anak-anak kita tetap sehat," jelasnya.
Hepatitis akut, kata Hanifah yang juga peneliti di RSCM, menular melalui saluran pernapasan sehingga perlu protokol kesehatan serupa pada penanganan COVID-19 seperti memakai masker, menjaga jarak, dan mengurangi mobilitas.
Upaya lain yang bisa dilakukan masyarakat untuk mencegah penularan adalah orangtua perlu memahami gejala awal penyakit hepatitis akut.


